Bagikan:

Kisah manusia yang menggantungkan hidup dari barang rongsok.

Oleh: Asyharuddin Wahyu Y.

Pukul 19.45 malam, Ridwan, pria berbadan kurus dengan kumis tipis yang mulai memutih dan berkulit coklat gelap masih sibuk dengan pekerjannya. Di depan kamar kos berukuran 3×8 meter, bermodalkan papan dengan paku di atasnya, Ridwan meluruskan kembali besi bekas yang ia beli dari pedagang rongsok. Harganya Rp. 5000,- per kilonya. Berbeda dengan warga lainnya yang memilih beristirahat, Ridwan justru lebih memilih bekerja dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Besi-besi yang sudah diluruskan itu tidak langsung dijual kembali. Melainkan akan dibuat ulang menjadi sebuah pondasi baru untuk dijual kepada toko bangunan. Harga satu pondasi ia jual sekitar Rp 7000,- per kilonya. Bila dirasa pondasinya kecil, maka akan dijual dengan harga Rp 10.000,- per meter. Bukan itu saja pekerjaan yang dilakukan pria 50 tahun ini.  Kadang ia mesti mencari kerja serabutan demi menambah penghasilan. Imbasnya penghasilan yang ia dapat pun menjadi tidak pasti.

“Penghasilan per hari saya sekitar 70-100 ribu Mas, itu pun kalo lagi banyak kerjaan. Namanya kehidupan Mas,” tuturnya sembari meluruskan besi.

Pada tahun 1990, ia dan istri pertamanya memutuskan untuk merantau ke Yogyakarta. Mereka tinggal disalah satu sanak keluarga sang istri yang saat itu menjadi juragan rongsok. Selama di Yogyakarta, Ridwan mengikuti pelatihan sebagai buruh dan ikut dalam “Perkumpulan Raja Rongsok”. Selama satu tahun Ridwan bekerja sambil belajar bisnis kepada Paman dari istri pertamanya. Setelah satu tahun bekerja, Lelaki asal Madura ini lebih memilih untuk membuka usaha sendiri dan mencoba peruntungan sebagai juragan rongsok.

Tidak mudah bagi Ridwan membangun rongsoknya sendiri kala itu. Hanya bermodalkan upahnya selama satu tahun menjadi buruh rongsok, ia memberanikan diri untuk mulai membangun usahanya. Usaha yang ia rintis berhasil. Ridwan merasakan masa kejayaannya setelah usahanya berjalan sekitar 4 tahun. Dari situlah dia bisa memiliki rumah dan mobil pribadi sendiri. Setelah itu ia terus mengembangkan usaha miliknya.

Ridwan mengaku kurang bisa membaca dan berpendidikan rendah. Meskipun begitu hal itu bukanlah alasan untuk tidak sukses. Ketika kecil, jarak rumah yang jauh membuatnya malas sekolah. Ia lebih memilih nongkrong di warung sembari menunggu teman-temannya pulang. Tugas-tugas sekolah ia kerjakan dengan menyontek hasil kerjaan teman. Alhasil sampai sekarang dia tidak bisa membaca tulisan yang panjang. Hanya tulisan pendek seperti rambu lalu lintas saja yang bisa ia baca.

Kesuksesan yang sudah ia raih tiba tiba saja menghilang. Pada tahun 2005 istri pertama Ridwan meninggal. Dan tanpa alasan yang jelas usaha yang sudah ia bangun selama 14 tahun bangkrut dalam seketika. Rumah dan mobil miliknya akhirnya terpaksa dijual untuk menyambung hidup.

Merasa malu dengan teman-temannya karena sudah bangkrut,  Ridwan memutuskan pindah. Sekarang Ridwan tinggal di Desa Karangdhowo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulonprogo. Lelaki paruh baya kelahiran 1964 ini menyewa kamar kamar kos dengan tarif Rp 150.000 per bulannya. Setelah istri pertamanya meninggal ia menikah lagi. Ia memiliki tiga anak dari istri pertama. Mereka mengenyam pendidikan hanya sampai SMP, itu pun tidak sampai lulus. Bukan berarti kurang biaya, melainkan memang malas sekolah. Ketiganya sekarang lebih memilih tinggal di Jogja untuk alasan bekerja.

Sedangkan istri keduanya ia suruh untuk tetap tinggal di daerah asalnya Jepara, Jawa Tengah untuk menunggu masa panen tiba. Ridwan kini memulai kehidupanya lagi dari nol, sembari berharap masa jayanya dulu bisa terulang kembali.

Bagikan: