Bagikan:

Dinamika produk jurnalistik lembaga pers mahasiswa di UII, di arus teknologi yang begitu deras.

DI depan saya, berbaris belasan bangku lipat. Agak berantakan. Hampir seluruh bangku itu tak memiliki penghuni. Hanya sekitar 10 bangku saja yang diduduki. Di hadapan bangku tersebut, nampak 20-an orang duduk bersila di atas karpet biru dan menghadap ke arah kami. Malam itu, tanggal 10 Januari 2015, adalah hari ketiga musyawarah anggota (musang) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Himmah UII. Mereka yang duduk bersila menghadap kami adalah pengurus Himmah di bidang redaksi. Sekarang adalah waktunya redaksi menyampaikan laporan pertanggung jawaban.

Meskipun hampir penuh terisi, ruangan seluas 4×8 meter itu terlihat sunyi.

Penyebabnya adalah seorang laki-laki yang duduk di samping saya. Moch. Ari Nasichuddin namanya. Ia adalah Pemimpin Umum (PU) Himmah saat itu. Ari memang orang yang gemar membuat kegaduhan di dalam forum, salah satunya saat ini. Ia mengusulkan agar Kobarkobari, buletin satu bulanan Himmah, dihentikan penerbitannya. Ia terlihat tak yakin akan usulannya. Tapi memang, beberapa bulan sebelum pelaksanaan musang, ia pernah menyampaikan keinginannya untuk menghapus Kobarkobari dari terbitan Himmah.

Kobarkobari adalah satu dari sejumlah produk jurnalistik yang Himmah terbitkan. Saat ini, Himmah memiliki tiga buah produk. Ada majalah Himmah, media daring Himmah Online (lpmhimmahuii.org), dan buletin Kobarkobari. Kobarkobari selama lebih dari 15 tahun ke belakang berfungsi untuk menangani isu-isu yang beredar di dalam kampus. Selain itu, Kobarkobari juga berfungsi untuk melatih kemampuan jurnalistik kader Himmah. Sebelum Kobarkobari terbit, di awal tahun 90-an, sebenarnya Himmah pernah memiliki dua produk buletin lainnya, yaitu Pekik dan Koran Himmah. Namun, tanpa alasan yang jelas, kedua produk itu tak lagi diterbitkan. Baru pada tahun 1999 Himmah menerbitkan Kobarkobari.

Usulan penghapusan yang Ari paparkan pada dasarnya bukan karena alasan keuangan. Himmah, sebagai LPM tingkat Universitas, tak memiliki permasalahan keuangan yang berarti. Ini karena Himmah merupakan satu dari empat Lembaga Khusus (LK) tingkat universitas yang ada di UII. Saat ini Himmah menyerap 38 persen anggaran belanja tahunan LK. Alokasi dana LK tersebut diraup dari 27.8 persen anggaran belanja tahunan Keluarga Mahasiswa (KM) UII. Jika dalam satu periode kepengurusan distribusi dana berjalan lancar, maka Himmah bisa mendapatkan dana operasional lebih dari Rp 30 juta. Belum lagi ditambah uang yang masuk dari dana taktis dan perusahaan. Lalu mengapa Ari mengusulkan penghapusan Kobarkobari?

“Menurutku saat ini media daring lebih efektif ketimbang Kobarkobari bagi gerakan Himmah kedepannya,” ungkap Ari.

Pendapatnya cukup beralasan. Menurut riset yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia (Puskakom) pada akhir tahun 2014, terdapat 88.1 juta pengguna internet aktif di Indonesia. Jumlah ini meningkat dari total 71.9 juta orang di tahun 2013. Lalu jika diklasifikasikan berdasarkan rentang usia, jumlah pengguna internet terbesar diraih oleh usia 18-25 tahun, dengan total 49 persen. Artinya segmen pengguna internet di Indonesia adalah mereka yang termasuk ke dalam kategori “digital natives,” yaitu generasi yang lahir setelah tahun 1980, ketika teknologi digital seperti Usenet dan Board System lahir.


Selain itu, jika diklasifikasikan berdasarkan pekerjaannya, terdapat 18 persen atau lebih dari 15 juta mahasiswa yang aktif menggunakan internet. Ini artinya pengguna internet yang mengaku sebagai mahasiswa lebih besar jumlahnya dari total mahasiswa yang terdata di Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi yang hanya berjumlah 6,923,764 orang. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat sesuai dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Pemerintah pun telah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 96 tahun 2014 tentang Rencana Pita Lebar 2014-2019. Targetnya, pada tahun 2019, populasi di perkotaan bisa menikmati broadband mencapai 30 persen. Sementara di pedesaan, target penetrasi broadband adalah 6 persen.

Sialnya, saat itu Ari tak membawa data-data tersebut.

Perdebatan alot tak terhindarkan. Beberapa orang mendukung usulan Ari untuk menghentikan penerbitan Kobarkobari. Tapi tak sedikit pula yang menolak usulan tersebut. Bahkan anggota musang yang kontra terhadap usulan tersebut jumlahnya lebih banyak.

Terdengar isakan datang dari kerumunan pengurus redaksi yang duduk bersila di hadapan saya. Saya begitu penasaran dengan suara itu, mungkinkah ada yang menangis? Lalu dengan sedikit menegakkan badan yang sudah loyo ini, saya mencari-cari asal suara dan benar saja, ada yang menangis!

Ia adalah Dian Indriyani. Matanya merah. Wajahnya basah. Suara sesenggukannya membuat ruangan ini menjadi canggung. Saya menengok ke sebelah kanan, dan melihat Ari sedang garuk-garuk kepala. Ia tersenyum ringan, seakan tak percaya dengan kejadian ini.

Indri merupakan salah satu pengurus yang tak sepakat dengan usulan penghapusan Kobarkobari. Menurutnya, Kobarkobari saat ini belum layak untuk dihapus. Saat ini Kobarkobari masih memiliki pembaca tetap yang setiap bulannya selalu menunggu untuk membaca. “Temen-temenku di kampus tuh pada nanyain Kobarkobari. Pembaca tetapnya masih banyak. Gak mungkin tiba-tiba kita hapus.”

Biasanya Ari kekeuh akan pendapatnya. Atau paling tidak harus ada perdebatan yang sangat panjang untuk meladeninya. Namun tidak kali ini. Persiapannya tak matang. Di samping karena tidak mengira akan terjadi adegan tangis menangis, juga karena ia belum benar-benar mempersiapkan data yang mendukung usulannya. Akhirnya, ia menyerah. Kobarkobari tak jadi dihapus. Tapi ia kemudian melanjutkan, “Aku harap hal ini juga dibahas di rapat kerja kalian nanti.”

Pada rapat kerja yang berlangsung sekitar tiga minggu setelah musang, akhirnya Himmah memutuskan untuk tetap menerbitkan Kobarkobari, tetapi jumlah terbitannya dikurangi. Jika pada periode sebelumnya Kobarkobari ditargetkan untuk terbit sebanyak dua belas kali dalam satu periode, maka pada periode ini penerbitannya ditargetkan hanya delapan kali.

“Jumlah penerbitan ini dikurangi karena evaluasi dari periode lalu adalah kualitas SDM (Sumber Daya Manusia –red). Kita gak mau banyak nerbitin produk tapi kualitasnya tidak memuaskan,” ungkap Kholid, Pemimpin Redaksi (pemred) Himmah, yang sekarang naik menjadi PU, menggantikan PU sebelumnya yang tidak bisa melanjutkan tanggung jawab karena sakit.

Ke depannya Himmah berencana melakukan riset terkait usulan penghapusan Kobarkobari tersebut.

Pengurangan jumlah penerbitan juga terjadi di Solid, LPM Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP). Buletin Landscape, yang awalnya terbit setiap satu bulan sekali, dikurangi menjadi hanya tiga bulan sekali. Iqbal Ramadhan, PU Solid saat ini, menceritakan bahwa ada beberapa hal yang menjadi landasan perubahan itu. Pertama, terbatasnya SDM yang Solid miliki. Kedua, Solid ingin menjadikan Landscape sebagai produk yang integral dengan gerakan lembaga kemahasiswaan di FTSP. “Jadi setiap habis terbit, nanti kita adain diskusi terbuka dengan mahasiswa, khususnya Dewan Perwakilan Mahasiswa FTSP. Biar nanti isu yang telah kita angkat di Landscape ditindaklanjuti,” katanya. Sementara landasan ketiga adalah perkembangan teknologi yang sangat pesat.

Solidpress.co, media daring yang dimiliki oleh Solid, merupakan produk terbaru yang mereka miliki. Diterbitkan pada Agustus 2015. Dalam pengelolaannya, solidpress.co masih kurang sistematis. Redaksi belum memiliki kebijakan yang baku dalam menangani solidpress.co. Saat ini, Solid melimpahkan tanggung jawab pengelolaan solidpress.co kepada redaktur pelaksana (redpel). Setiap minggunya redpel akan memberi tanggung jawab kepada seorang pengurus untuk mengisi. Solidpress.co juga belum terlalu memikirkan ideologi sosio-engineering yang Solid miliki. “Aku bilang sekarang, sih, masih sporadis. Masih kurang rapi. Tapi ini (manajemen penerbitan solidpress.co –red) akan terus diperbaiki.”

DARI SUDUT warung kopi, perempuan itu mengangkat tangannya, memberi sinyal pada saya yang baru sampai. Perempuan itu adalah Naili Jannati, pengurus LPM Pilar Demokrasi. Ia tampak berdua dengan seorang laki-laki. Saya cukup kenal laki-laki itu. Beberapa bulan yang lalu saya pernah satu tim dengannya, di dalam tim kerja pemilihan wakil mahasiswa. Badannya gemuk, kulitnya agak gelap dengan postur cukup tinggi. Saya pun bergegas mematikan motor, melepas helm, dan menghampiri mereka.

“Udah lama?”

“Enggak, kok. Baru setengah jam kita,” jawab Naili yang terlihat cukup lelah.

“Katanya kalian habis beres-beres kantor?”

Naili tertawa. “Iya, dong. Udah dari kemaren kita berbenah. Periode baru, suasana baru.”

“Wah. Ghozi nih, PU barunya?” Saya menyalami Ghozi, laki-laki di samping Naili.

“Hehe, iya, Mas.”

Saya taruh tas selempang saya di bale di dekat mereka duduk, lalu memesan kopi hitam. Angkringan Joglo yang tak jauh dari kampus terpadu UII Kaliurang, malam itu tak seramai biasanya. Mungkin karena efek tahun baru. Ini adalah hari kedua setelah tahun baru. Biasanya ketika masa libur singkat tahun baru, kebanyakan mahasiswa UII pulang ke rumahnya, tapi tidak dengan pengurus LPM Pilar Demokrasi. Mereka baru saja kelar melaksanakan rapat kerja yang dilaksanakan Desember 2015 kemarin. Saat ini mereka menerbitkan satu produk baru: media daring.

Rencananya, produk terbaru Pilar itu akan terbit beberapa minggu ke depan. Namun, Naili belum dapat memastikan kapan waktu penerbitannya. Wacana pembentukan media daring ini sebenarnya sudah pengurus Pilar pikirkan sejak beberapa bulan lalu. Sayangnya, rencana ini belum dapat terealisasikan karena kepengurusan yang tidak stabil.

Latar belakang pembentukan media daring tersebut berangkat dari beberapa saran yang masuk ke Pilar. Saran yang paling Naili ingat saat itu adalah dari Yusdani, salah satu dosen FIAI. Dia menyarankan agar sebaiknya Pilar memiliki media daring karena informasi yang ada di media daring akan lebih cepat tersampaikan kepada pembaca. “Bahkan dia menyarankan untuk hapus Deru Pos (buletin LPM Pilar Demokrasi –red), loh.”

Alasan lain dari pembentukan media daring tersebut juga soal efektifitas. Deru Pos sendiri, dalam setiap kali penerbitannya, dicetak sebanyak 350 eksemplar. Jumlah yang sedikit ini semakin terasa karena proses perkuliahan yang ada di FIAI tidak hanya dilakukan di satu gedung. “Ada yang kuliah di gedung FIAI, ada juga yang di gedung FTI (Fakultas Teknologi Industri –red),” jelas Naili. Akhirnya, mahasiswa yang aktivitas perkuliahannya lebih sering dilakukan di gedung FTI kerap tidak mendapatkan Deru Pos sebab Deru Pos yang Pilar terbitkan diletakkan di meja satpam gedung FIAI.

Rencananya Deru Pos akan dihapuskan. Namun, proses perpindahan ini akan dilakukan secara perlahan. Ada rencana jangka panjang. Hal ini juga belum dipaparkan di forum formal. Baru ada obrolan ringan. Hampir seluruh pengurus Pilar sepakat untuk melakukan penghapusan Deru Pos.

Pilardemokrasi.com, media daring Pilar, model tulisannya akan lebih mengarah kepada model jurnal. Artikel yang ada di pilardemokrasi.com nantinya akan ditekankan kepada hal-hal yang berkaitan dengan proses perkuliahan. Model ini dipilih karena lebih konkret menggambarkan komitmen Pilar kepada kontekstualisasi pendidikan. Harapannya dengan adanya pilardemokrasi.com, akan memudahkan mahasiswa dalam mencari referensi perkuliahan. Selain itu, Pilar juga akan mengajak mahasiswa untuk menulis di pilardemokrasi.com.

GELAK TAWA terdengar dari ruangan di samping kanan saya. Hanya tembok setebal 3 sentimeter yang membatasi kedua ruangan tersebut. Hari itu, sekitar pertengahan Oktober 2015, adalah hari kedua Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut LPM Profesi FTI. Pelatihan hari itu sudah selesai dilaksanakan.

Saat ini pengurus Profesi sedang berdiskusi untuk memilih logo produk terbarunya, Gonjang-ganjing. Ada lebih dari 5 logo yang ditawarkan. Logo-logo yang diperlihatkan rata-rata cukup bagus. Yang membuat mereka tertawa adalah penjelasan dari para pemilik logo tersebut. Penjelasannya lucu-lucu.

Pemenang sayembara logo tersebut adalah Warih Arbi Hernowo. Tak heran, Arbi merupakan kepala bidang rancang grafis dan fotografi Profesi. Menurut saya pun, memang logonya lah yang patut untuk menang. Logo yang dibuat Arbi sebenarnya cukup sederhana. Hanya terdapat dua baris kata. baris pertama bertuliskan “GONJANG” dan baris kedua bertuliskan “GANJING”. Di dalam desain huruf “O” pada kata gonjang, terdapat lingkarang-lingkaran lain yang dibuat seperti getaran. Desain itu dipilih karena Arbi memaknai Gonjang-gajing sebagai getaran.

Gonjang-ganjing merupakan buletin terbaru Profesi yang terbit setiap dua minggu. Alasan terbitnya produk tersebut adalah untuk melatih kemampuan jurnalistik pengurus Profesi. Pada periode sebelumnya, mereka merasa sangat kurang latihan menulis. Sebabnya, saat itu Suplemen (buletin satu bulanan Profesi) digarap oleh magang atau pengurus angkatan baru. Akhirnya, pengurus angkatan lama kurang mendapatkan sarana latihan menulis.

Jadi periode ini Profesi memiliki empat buah produk jurnalistik: majalah Profesi, buletin satu bulanan Suplemen, buletin dua mingguan Gonjang-ganjing, dan media daring lpmprofesi.com.

Bercerita soal produk jurnalistik yang ada, Mohamad Zidni Ilmi, pemred Profesi itu nampak gusar. “Belakangan, aku sebenernya agak nyesel juga nerbitin Gonjang-ganjing,” katanya, sembari melahap nasi gorengnya.

Lalu ia melanjutkan. “Kalo masalahnya itu kurang latihan menulis, kenapa ga manfaatin daring aja.”

Ia sekarang kerepotan untuk mengorganisir penerbitan. Dengan adanya empat produk, maka ia harus pintar-pintar membagi tim penggarapan. Saat ini manajemen penerbitan produk Profesi dibagi berdasarkan angkatan. Untuk angkatan 2012 dan 2013 menggarap majalah. Angkatan 2014 menggarap Suplemen dan 2015 menggarap Gonjang-ganjing. Lpmprofesi.com jadi terbengkalai. Memang, saat saya pantau beberapa hari yang lalu,  terbitan terakhir lpmprofesi.com terjadi di bulan Desember.

Ketika rapat kerja, Zidni tak terlalu ingat mengapa tidak ada usulan untuk memberdayakan media daring. “Pas Tantowi (PU Profesi) mengusulkan Gonjang-ganjing kita ya setuju aja. Ga ada perdebatan.”

Selain itu, Suplemen dan Gonjang-ganjing saat ini berada dalam posisi yang dilematis karena kedua produk tersebut tak benar-benar dibaca oleh banyak mahasiswa. Mengapa?

Untuk Suplemen dan Gonjang-ganjing, masing-masing dicetak sebanyak 300-400 dan 150-200 eksemplar. Karena sedikitnya jumlah terbitan yang ada, tidak banyak mahasiswa yang mendapatkan kedua produk tersebut. Akhirnya, kebanyakan pembaca kedua buletin tersebut terbatas pada mahasiswa dalam lingkup lembaga saja. Mahasiswa yang berada di luar naungan lembaga kesulitan mendapatkannya.

“Kita ga boleh naif sekarang. Mahasiswa FTI itu ribuan. Kalau kita nerbitin cuma segitu, yang baca ya itu-itu doang.”

Berbeda dengan beberapa LPM yang sudah saya ceritakan di atas, Ekonomika, LPM Fakultas Ekonomi (FE) dan Keadilan, LPM Fakultas Hukum (FH) UII, tidak melakukan perubahan terhadap produk terbitannya. Tidak ada penerbitan produk baru. Tidak ada pengurangan ataupun penambahan jumlah terbitannya. Hanya manajemen penerbitan saja yang diubah.

Seperti Ekonomika misalnya, sekarang membuat beberapa perubahan manajemen penerbitan dalam mengelola media daring. Restin Septiana, Redaktur bacaekon.com, mengatakan bahwa bacaekon.com sebelumnya kurang aktif sehingga saat ini ia memberikan tanggung jawab harian kepada pengurus untuk menggarap. Jadi, setiap hari ada pengurus yang harus mengirim karya ke bacaekon.com. Secara kuantitas, manajemen yang diterapkan tersebut memang membuat bacaekon.com lebih terjaga. Artinya akan selalu ada terbitan setiap hari. Tapi, manajemen ini akan membuat Restin kesulitan saat ada suatu isu yang membutuhkan lebih dari satu berita untuk diangkat.

Contohnya adalah isu Mahabarata yang pernah diangkat di bacaekon.com. Isu tersebut sebenarnya membutuhkan reportase yang cukup panjang, tapi tidak terlaksana. Di satu sisi berita tersebut butuh kelanjutan, namun di sisi yang lain Restin tidak bisa memberikan tanggung jawab lagi kepada pengurus yang menggarap berita pertama karena sudah berganti hari. Penggarapan isu tersebut juga akan sulit jika diberikan kepada pengurus yang lain karena yang benar-benar mengerti isu itu adalah pengurus yang menggarap dari awal.

GEDUNG KAMPUS pascasarjana FH UII siang itu, 13 November 2015 berbeda dari hari-hari biasanya. Nampak ratusan orang mengenakan jas biru berkumpul memadati halaman gedung tersebut. Terlihat spanduk-spanduk yang berisi kecaman kepada Yayasan Badan Wakaf (YBW) UII. Salah satunya bertuliskan “BW ke mana uang kami?”.

Empat orang wartawan Himmah terjun untuk meliput aksi yang diadakan oleh KM UII itu. Dua orang di antaranya terlihat asik memotret, merekam persitiwa yang terjadi. Aksi tersebut adalah buah kekecewaan KM UII kepada YBW yang tidak bersedia melakukan transparansi anggaran belanja.

Dua hari setelahnya, lpmhimmahuii.org menerbitkan berita terkait demonstrasi tersebut. Salah satunya berjudul “KM UII Menagih Tahu dengan Aksi.” Belum tiga jam setelah berita tersebut diterbitkan, pengunjung lpmhimmahuii.org malam itu membludak. Berdasarkan pantauan sistem analisis halaman web yang Himmah pakai, Google Analyticsterlihat sudah ada 1500 pengunjung yang datang melihat berita tersebut. Pembaca yang sedang online pun mencapai angka 200 orang. Suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya di media daring Himmah.

Ini merupakan satu contoh dari efektivitas media daring Himmah. Jika Kobarkobari perlu waktu satu bulan—belum ditambah dengan ngaret-nya deadline penerbitan—untuk mengumpulkan pembaca sebanyak itu, maka tidak demikian dengan media daring yang hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 jam.

Saya membayangkan masa depan LPM-LPM yang ada di UII. Masa depan seperti apa yang menunggu di depan sana di tengah arus teknologi yang begitu deras. Akankah LPM akan tetap pada patok lamanya? Atau berani keluar dari patok yang lama? (Nurcholis Ainul R.T.)

Bagikan: