Bagikan:

HIMMAH ONLINE, YogyakartaKafe Blanco Coffee and Books yang terletak tak jauh dari Tugu Jogja itu tidak terlalu besar. Malam itu, Jumat 29 Januari 2016 saya bersama Siro dan Novita menemui Hermitianta atau lebih akrab disapa Mimit. Salah seorang pegiat Jejaring Pangan Lokal.

Hari ini kamu makan apa?”

Nasinya dari mana?”

Bagaimana ditanamnya? Pakai pestisida kah? Organik kah?”

Ayamnya dari mana?”

Bagaimana ayamnya di ternak?”

Sejumlah pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Mimit. Menurut Mimit, penting untuk mengenal apa yang kita makan tiga kali dalam sehari. Mengenal yang dimaksud adalah mengetahui asal makanan tersebut, bahan apa saja yang digunakan dalam bercocok-tanam maupun beternak. Pembahasan dimulai dari bagaimana proses bercocok-tanam dilakukan. Penanaman padi, sayur dan buah yang menggunakan pestisida dan pupuk buatan akan menghasilkan residu kimia. Residu tersebut akan menumpuk dan merusak alam. selain itu, pupuk buatan akan megendap di tanah dan menghilangkan unsur hara tanah. Sehingga butuh waktu bertahun-tahun untuk mengembalikan unsur hara tanah.

Permasalahan lain adalah distribusi pangan yang menghasilkan emisi karbon. Emisi karbon dapat merusak bumi. Masyarakat memiliki andil yang besar dalam perusakan tersebut melalui apa yang mereka konsumsi setiap hari. Contohnya ialah, semakin sering kita makan, semakin sering pula distribusi dilakukan. Distribusi yang panjang dapat diperpendek dengan banyak cara. Salah satunya memaksimalkan bahan makanan dari sumber terdekat. Semisal beras dari daerah sendiri begitu juga buah dan sayuran. Hal tersebut juga dapat mensejahterakan petani maupun peternak disekitar kita, selain itu polusi juga akan berkurang. “Kita tidak perlu memperingati hari bumi sekali setahun. Cukup penyelamatan tiga kali sehari saja” ujar Mimit. Dengan penyelamatan tiga kali sehari menjadikan setiap hari adalah hari bumi. tidak hanya sekali dalam setahun, bahkan tiga kali sehari.

Mie instan bahannya dari apa?”

Gandum dari mana?”

Ada nggak di Indonesia?”

Bagaimana gandum sampai di Indonesia?”

Selain menegaskan kembali persoalan distribusi, kali ini Mimit juga menyoroti sampah yang dihasilkan. Dengan mengurangi makan mie instan maupun produk-produk lain akan mengurangi perusakan bumi dari sampah plastik hingga pengolahan pabrik. Alternatif lain adalah berbelanja di pasar. Pedagang pasar umumnya mengambil langsung dari petani sehingga dapat memperpendek distribusi. Selama ini pangan memang dimanfaatkan untuk kebutuhan ekonomi dan politik. Di masa depan yang berkuasa adalah yang memegang pangan. Namun bukan petani. Kembali lagi, karena masalah distribusi dan pangan dimanfaatkan untuk ekonomi dan politik yang nantinya akan menjadikan petani bukan sebagai peguasa pangan. “Ada petani, dia menanam padi. Tapi dia tidak memakan hasil panennya, malah makan raskin,” ujar Mimit.

Mimit memaparkan permasalahan lainnya, “Petani terlalu bergantung dengan tengkulak, mereka tidak mau menjual hasil panennya sendiri,” ungkap Mimit. Petani menjual berasnya ke tengkulak seharga 4.500 hingga 6.000 per kilogram. Sedangkan masyarakat membeli beras seharga 11.000 atau bahkan lebih. Sehingga seringkali petani hanya mendapatkan untung yang sedikit bahkan rugi. Sedangkan keuntungan yang lebih besar diperoleh pedagang dan tengkulak. Semakin panjang jalur distribusi akan semakin mahal bahan makanan tersebut. Hal ini akan berbeda apabila petani menjual sendiri hasil panennya ke konsumen langsung. Petani akan mendapat untung lebih tinggi, dan konsumen akan mendapat harga lebih rendah.

Alternatif lain untuk memperpendek distribusi adalah pasar alternatif yang digagas oleh Jejaring Pangan Lokal. Pasar alternatif mewadahi petani sebagai produsen utama yang menjual produk pertaniannya langsung ke konsumen. Konsumen juga dapat memperoleh produk tani yang lebih segar dan murah. “Namun petani yang terlibat di pasar alternatif ini masih sedikit, terang Mimit. Sosialisasi yang masih dilakukan secara bertahap sehingga kuantitas pembeli dan penjual dalam pasar alternatif menjadi kendala. “Kalau satu kwintal saya antar mas, tapi kalau cuma lima kilo sepuluh kilo kayaknya nggak bisa,” ucap Mimit dengan menirukan gaya petani beras yang dia tanya. Petani umumnya menginginkan hasil panennya terjual secara keseluruhan. Hal ini menjadi salah satu kendala pasar alternatif dan masih digemarinya menjual ke tengkulak.

Bingung ya?” tanya Mimit kepada Siro yang hanya diam.

Aduh habis ini mau makan stress dulu mas mikirin asalnya, gimana menanamnya. Kalau ke daerah bukan penghasil beras gimana makannya ya,” canda Siro.

Kita nggak harus makan beras!” tegas Mimit. Menurut Mimit selama ini masyarakat terlalu bergantung pada beras padahal banyak sumber pengganti beras disekitar kita yang juga mengandung karbohidrat. Sejak orde baru petani dipaksa menanam beras padahal sebelumnya tanaman mereka begitu beragam. Hal tersebut mengakibatkan perubahan pola pikir masyarakat dimana belum makan kalau belum makan nasi. Sekarang sedang terjadi adalah di Papua. Masyarakat Papua yang notabene makan sagu yang tumbuh liar di hutan dipaksa makan nasi. Hutan ditebangi digantikan sawah padi. Salah satu pengganti beras yang dekat dengan warga Jogja adalah sorghum. Beberapa petani di Jogja masih menanam sorghum dan mencampurnya dengan beras. Sayangnya makanan lokal tersebut sudah sangat dilupakan. Bahkan saat diskusi ini kami bertiga yang berasal dari Jawa tidak mengetahui sorghum, pembaca mungkin juga begitu. (Siti N. Qoyimah)

Baca:  Peringati Hari Bumi dengan Kegiatan Bersih Pantai
Bagikan: