Bagikan:

Himmah Online, Kampus  Terpadu – Lembaga Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (LEM UII) mengadakan diskusi yang bertema “KM UII Mau dibawa Kemana?”, Selasa, 21 Maret 2017 pukul 19.00 WIB bertempat di Gedung Kuliah Umum (GKU) Sardjito. Adapun tujuan diskusi tersebut adalah untuk melihat dan mengkaji posisi Keluarga Mahasiswa (KM) UII sendiri yang sekarang sedang diambang batas. Dalam artian kepekaan mahasiswa terhadap masyarakat dan masalah internal di UII yang sudah sangat menurun.

Berikut narasumber yang hadir dalam diskusi yaitu Dr. Abdul Jamil, SH., Wakil rektor III UII (2014-2017), Muhammad Petra Wijaya, ketua DPM UII (2016/2017), Dhimas Panji Wira Atmaja, Ketua umum LEM UII (2015/2016), Indra Putra Wijaya, ketua umum LEM UII (2016/2017) serta Ibrahim Malik, Mahasiswa berprestasi 2015. Dalam diskusi tersebut, Abdul Jamil memaparkan sejarah KM UII dan sistem Student Government yang dianut UII, “Dulu tidak ada yang namanya KM UII tapi Senat Mahasiswa yang memiliki posisi dan tugas masing-masing dalam strukturnya,” ujar Jamil. “Student Government yang diterapkan UII pada dasarnya berperan untuk mendewasakan  mahasiswanya serta sebagai wadah untuk melatih mahasiswa sebagai pemimpin,” lanjutnya. Abdul Jamil juga  menyinggung tentang struktur organisasi kelembagaan mahasiswa pada saat ini yang telah jauh menyimpang.

Bahasan lainnya terkait prinsip koordinasi yang ada di Student Government, “Dari, Oleh dan Untuk mahasiswa.” Dhimas menjelaskan bahwa prinsip tersebut sudah tidak nampak lagi saat ini, “Posisi antara DPM dan Rektorat, LEM dan Dekan itu bukan sesajar tetapi saling berkoordinasi untuk membentuk suatu demokrasi dari, oleh dan untuk mahasiswa, hal itu bertujuan untuk memberikan wadah dalam menampung segala apresiasi mahasiswa agar dapat tersampaikan,” ujarnya. Kemudian terkait Bargaining Position pada Student Government ia menambahkan bahwa, “Bargaining Position itu bukan untuk membandingkan antar power tetapi untuk menyatukan kekuatan mahasiswa dalam mengatur Student Government itu sendiri.” tambahnya.

Baca:  Menjadi DPM, Alhamdulillah atau Astagfirullah?

Selain itu Petra ketika ditanya tentang kondisi KM UII sekarang, ia menjawab “Tidak ada perubahan yang signifikan dari KM UII, Ia masih memiliki orientasi yang berbeda-beda. KM UII hanya sebagai keluarga, oleh karena itu mahasiswa harus dapat memahami makna dari keluarga itu sendiri.” Jawabnya. Ia menambahkan bahwa dalam masalah KM UII saat ini, kedepannya DPM akan tetap konsisten dalam program kerja yang ada selama satu tahun kedepan.

Indra Putra, sebagai ketua LEM menjelaskan penyusunan program kerja yang berdampak secara internal maupun eksternal, dimana dalam setiap kegiatan akan selalu  diverifikasi, “Setelah verifikasi dan dianggap sudah sesuai dengan program kerja maka langsung dilakukan eksekusinya,” ujarnya. Mengenai tolak ukur keberhasilan dari program kerja, ia menjelaskan untuk sekarang belum ada indikator dalam pencapaian suatu kinerja kelembagaan, ”Mungkin untuk kedepannya memang harus ada suatu indikator sebagai tolak ukur keberhasilan suatu kelembagaan.” Jelasnya.

Adapun Ibrahim Malik, selaku mahasiswa berprestasi memberikan pandangannya tentang KM UII saat ini bahwa birokrasi ke DPM maupun  LEM lebih panjang dibandingkan Universitas, “Membuat sebuah Bargaining Position pada Student Government yang baik antara DPM, LEM dan Mahasiswa adalah dengan menjadikan Student Government yang awalnya Close Government menjadi Open Government sehingga mahasiswa lain dapat memberikan apresiasi mereka sendiri.” ujarnya. Terkait relavan tidaknya antara KM UII dengan Student Government ia menjawab, “Tidak lagi relavan, karena birokrasi yang panjang bisa dipersempit  dengan era digital yang sekarang.” Jawab Ibrahim. (Dinda Tri Lestari)

Bagikan: